Hal yang menarik dari
pemberitaan media akhir akhir ini adalah tentang adanya reshuffle kabinet
Indonesia Bersatu Jilid II. Dimana para pemimpin parpol koalisi dipanggil untuk
menghadap ke cikeas dan membahas beberapa menteri yang akan diganti.
menurut UKP4 terdapat sekitar 50% menteri yang kinerjanya mendapat raport
merah. Yang menarik disini adalah jumlah menteri dan jumlah wakil menteri yang
semakin membengkak atau semakin gemuk dalam kabinet, dimana sampai saat ini
terdapat kurang lebih 34 menteri dan 16 wamen (wakil menteri). Apakah kabinet
ini akan efektif dalam arti kabinet kerja atau hanya menjadi kabinet pencari
kerja atau yang lebih luas penafsirannya hanya sebagai kabinet cari-cari
kerjaan. Karena dengan adanya wakil menteri maka akan berdampak kepada
pengeluaran Negara dimana setiap wakil menteri itu terdapat beberapa staf
untuk membantu kinerjanya.
Dan apakah ini efektif,
menurut Cjipta lesmana adanya wakil menteri merupakan
kemunduran yang sangat besar bagi pemerintahan SBY, bila dibandingkan dengan
pemerintahannya presiden Soeharto yang hanya menggunakan menteri tanpa wamen
dapat menjadikan bangsa Indonesia menjadi pemimpin Asia. Dalam upaya membantu
kinerja menteri seharusnya tidak perlu membentuk wamen karena menteri itu dapat
dibantu oleh dirjen dan dirjen dibantu oleh sekjen. Dalam hal ini dirjen lah
yang harus kuat intelektualitasnya karena dirjen merupakan "amunisi"
untuk membantu menteri dan harus orang-orang yang mempunyai integritas,
inteltualitas dan profesionalitas yang tinggi, Karena jabatan dirjen adalah
jabatan intelektualitas sebaliknya seharusnya menteri tidak harus mempunyai
intelektualitas di bidang akademik yang tinggi karena jabatan menteri adalah
jabatan politis, yang dibutuhkan seorang menteri adalah kemampuan berpolitik
agar dapat mempengaruhi masyarakat dengan segala kebijakannya.
jadi harus adanya
keseimbangan antara menteri dan dirjen dalam membangun bidang
kementerian tersebut sehingga tidak memerlukan adanya wamen. sedangkan di lain
hal SBY sangat tidak konsisten dimana adanya moratorium PNS, SBY malah membuka
lowongan pekerjaan untuk posisi Wamen dan staf wamen. itulah kebijakan yang
salah atau dalam kata lain bobroknya kebijakan pemerintah. apakah para menteri
dan wamen ini nantinya akan dapat mensejahterakan rakyat atau hanya sebagai
bagi-bagi kekuasaan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar